Mempelajari bahasa asing sering kali menjadi tantangan tersendiri, terutama jika bahasa tersebut memiliki akar linguistik yang sangat berbeda dengan bahasa ibu kita. Bagi penutur Bahasa Indonesia, mempelajari Bahasa Jepang bisa terasa seperti memasuki dunia baru dengan aturan main yang benar-benar berbeda. Topik Indonesia vs Jepang dalam konteks linguistik bukan hanya sekadar perbandingan kosakata, melainkan penyelaman mendalam ke dalam cara berpikir dan budaya yang tercermin melalui bahasa.

Banyak pemelajar pemula merasa frustrasi di awal karena mencoba menerapkan logika Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jepang. Padahal, kedua bahasa ini memiliki perbedaan fundamental yang jika dipahami sejak dini, akan sangat mempercepat proses belajar Anda. Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaan-perbedaan tersebut, mulai dari sistem penulisan hingga nuansa budaya yang memengaruhi tata bahasa.

1. Sistem Penulisan: Satu vs Empat

Perbedaan yang paling mencolok saat pertama kali melihat teks bahasa Jepang adalah aksaranya. Bahasa Indonesia menggunakan Alfabet Latin (26 huruf) yang sangat kita kenal. Satu huruf mewakili satu bunyi (fonem), dan kita bisa membaca hampir semua kata jika sudah mengenal huruf A sampai Z.

Sebaliknya, Bahasa Jepang menggunakan tiga jenis aksara utama yang digunakan secara bersamaan, ditambah dengan huruf Latin (Romaji) untuk keperluan tertentu.

A. Hiragana (ひらがな)

Ini adalah tulang punggung bahasa Jepang. Digunakan untuk kata-kata asli Jepang dan partikel tata bahasa. Contoh: (わたし) (Saya), 食べる(たべる) (Makan).

B. Katakana (カタカナ)

Digunakan terutama untuk kata serapan asing (selain dari China), nama orang asing, dan penekanan (seperti italics dalam bahasa Inggris). Contoh: インドネシア(Indoneshia) (Indonesia), コーヒー(Koohii) (Kopi).

C. Kanji (漢字)

Karakter yang diadopsi dari China. Kanji membawa makna logografis. Satu huruf Kanji bisa mewakili sebuah kata atau ide. Contoh: () (Matahari/Hari), (ほん) (Buku/Asal). Jika digabung menjadi 日本(にほん) (Jepang).

Bagi Anda yang ingin mendalami aksara ini, silakan pelajari panduan kami tentang Huruf Hiragana, Huruf Katakana, dan Kanji untuk Pemula.

Kombinasi ketiga aksara ini dalam satu kalimat sering membingungkan pemula, namun justru inilah yang membuat teks bahasa Jepang kaya akan nuansa visual dan makna.

2. Struktur Kalimat: SPO vs SOP

Inilah perbedaan gramatikal terbesar antara Indonesia vs Jepang. Bahasa Indonesia mengikuti pola Subjek - Predikat - Objek (SPO), mirip dengan Bahasa Inggris.

  • Indonesia: Budi (S) makan (P) apel (O).

Sedangkan Bahasa Jepang menggunakan pola Subjek - Objek - Predikat (SOP). Kata kerja (predikat) selalu berada di akhir kalimat.

  • Jepang: Budi (S) apel (O) makan (P).

Mari kita lihat contoh kalimat lengkapnya:

Indonesia: Saya makan nasi.

Jepang: (わたし) ご飯(ごはん) () べます。
(Watashi wa gohan o tabemasu)
Secara harfiah: Saya [partikel topik] nasi [partikel objek] makan.

Perubahan pola pikir ini krusial. Dalam bahasa Jepang, Anda harus mendengarkan kalimat sampai selesai untuk mengetahui apa tindakan yang dilakukan (apakah positif, negatif, lampau, atau sekarang), karena semua informasi itu ada di predikat di ujung kalimat.

3. Partikel: Perekat Kalimat yang Tidak Ada di Indonesia

Dalam Bahasa Indonesia, posisi kata menentukan fungsinya. “Anjing menggigit kucing” berbeda maknanya dengan “Kucing menggigit anjing”. Posisi sebelum kata kerja adalah subjek, dan setelah kata kerja adalah objek.

Dalam Bahasa Jepang, posisi kata lebih fleksibel karena adanya Partikel (Joshi). Partikel adalah kata bantu kecil yang menempel di belakang kata benda untuk menunjukkan peran kata tersebut dalam kalimat.

  • (wa) : Menandakan topik pembicaraan.
  • (ga) : Menandakan subjek gramatikal.
  • (o) : Menandakan objek penderita.
  • (ni) : Menandakan target, waktu, atau lokasi keberadaan.

Selama partikelnya benar, Anda bisa menukar posisi kata (kecuali Predikat yang wajib di akhir).

Contoh:

  1. (わたし) (ほん) () います。 (Saya membeli buku).
  2. (ほん) (わたし) () います。 (Buku, saya membelinya).

Kedua kalimat di atas benar secara tata bahasa, meskipun kalimat kedua menekankan pada “buku”. Di Bahasa Indonesia, kita tidak memiliki ekuivalen langsung untuk partikel-partikel ini, yang sering kali menjadi sumber kebingungan terbesar bagi pemelajar.

4. Tingkat Kesopanan dan Keigo

Bahasa Indonesia mengenal tingkatan bahasa atau unggah-ungguh, namun tidak sekompleks Bahasa Jawa atau Bahasa Jepang. Kita menggunakan kata ganti sapaan yang berbeda (Aku vs Saya, Kamu vs Anda) untuk menunjukkan kesopanan.

Dalam perbandingan Indonesia vs Jepang, Bahasa Jepang memiliki sistem kesopanan yang sangat terstruktur dan terikat secara gramatikal, yang disebut Keigo (敬語). Bentuk kata kerja dan kosakata bisa berubah total tergantung pada:

  1. Siapa yang bicara.
  2. Siapa yang diajak bicara.
  3. Siapa yang dibicarakan.
  4. Situasi (formal/informal).

Ada tiga jenis utama Keigo:

  • Teineigo (丁寧語): Bahasa sopan standar (akhiran -desu, -masu). Aman digunakan untuk orang asing atau kenalan baru.
  • Sonkeigo (尊敬語): Bahasa hormat. Digunakan untuk meninggikan lawan bicara (misalnya atasan atau tamu). Kata “makan” yang biasanya taberu berubah menjadi meshiagarimasu.
  • Kenjougo (謙譲語): Bahasa merendah. Digunakan untuk merendahkan diri sendiri di hadapan lawan bicara. Kata “makan” berubah menjadi itadakimasu.

Di Indonesia, kita mungkin berkata “Silakan makan, Pak” kepada bos (sopan) dan “Makan dulu, gih” kepada teman (santai). Di Jepang, Anda menggunakan kata kerja yang benar-benar berbeda. Kesalahan penggunaan Keigo bisa dianggap sangat kasar atau tidak terdidik dalam lingkungan profesional.

5. Konteks: High Context vs Low Context

Budaya memengaruhi bahasa. Jepang dikenal sebagai budaya High Context, di mana banyak pesan tersirat dan tidak diucapkan secara langsung. Bahasa Indonesia cenderung berada di tengah-tengah, namun lebih eksplisit dibandingkan Jepang.

Dalam Bahasa Jepang, penghilangan subjek adalah hal yang sangat lumrah. Jika konteksnya sudah jelas, subjek tidak perlu disebut.

Contoh percakapan:

A: 明日(あした) (ひま) ? (Besok, senggang?)

B: うん、(ひま) 。 (Ya, senggang.)

Di sini tidak ada kata “kamu” atau “saya”. Berbeda dengan Bahasa Indonesia yang masih sering menyertakan subjek “Kamu besok sibuk?” atau “Saya besok bebas”.

Selain itu, orang Jepang cenderung menghindari penolakan langsung. Alih-alih mengatakan “Tidak bisa”, mereka mungkin berkata “Itu agak sulit…” ( ちょっと(chotto) …). Sebagai pembelajar, Anda dituntut untuk memiliki Kuuki Yomenai (kemampuan membaca situasi/udara) agar bisa memahami maksud tersirat tersebut.

6. Bentuk Jamak dan Gender

Kabar baik bagi pemelajar Bahasa Jepang: Bahasa ini tidak mengenal pembedaan gender pada kata benda (seperti le/la dalam Perancis) dan jarang menggunakan bentuk jamak yang eksplisit.

Dalam Bahasa Indonesia, kita menggunakan pengulangan kata untuk jamak (orang-orang, buku-buku). Dalam Bahasa Jepang:

  • (ひと) (Hito) bisa berarti “satu orang” atau “banyak orang”.
  • (ほん) (Hon) bisa berarti “sebuah buku” atau “tumpukan buku”.

Konteks atau angka spesifiklah yang menentukan jumlahnya. Contoh: (ほん) 二冊(にさつ) (Dua jilid buku).

Apakah Bahasa Jepang sama sekali tidak mengenal pengulangan kata? Sebenarnya ada, tapi tidak universal. Kita bisa menjumpai kata seperti 人々(ひとびと) (Hitobito - orang-orang), 時々(ときどき) (Tokidoki - kadang-kadang), atau 色々(いろいろ) (Iroiro - bermacam-macam).

Namun, perlu diingat bahwa ini adalah kasus khusus dan tidak bisa diterapkan pada semua kata benda. Anda tidak bisa mengatakan “Hon-hon” untuk “buku-buku”. Pengulangan dalam bahasa Jepang lebih bersifat leksikal (per kata) daripada aturan tata bahasa umum.

Ini menyederhanakan tata bahasa di satu sisi, namun menambah beban pada pemahaman konteks di sisi lain.

7. Pelafalan: Vokal Murni vs Diftong

Secara fonetik, Indonesia vs Jepang memiliki kemiripan yang menguntungkan bagi penutur Indonesia. Kedua bahasa memiliki pelafalan vokal yang tegas dan jelas (A, I, U, E, O).

Namun, ada beberapa perbedaan:

  • Vokal Panjang: Di Jepang, panjang pendeknya bunyi bisa mengubah arti.
    • おばさん(Obasan) = Bibi.
    • おばあさん(Obaasan) = Nenek. Di Indonesia, memanjangkan vokal biasanya hanya untuk penekanan emosi, bukan pembeda makna kata.
  • Hentakan (Pitch Accent): Bahasa Indonesia lebih banyak menggunakan tekanan (stress) pada suku kata, sedangkan Bahasa Jepang menggunakan nada (pitch). Kata yang sama jika diucapkan dengan nada turun atau naik bisa berbeda arti (misalnya Hashi yang bisa berarti Sumpit, Jembatan, atau Ujung, tergantung nadanya).

8. Waktu: Tenses (Kala)

Bahasa Indonesia tidak memiliki perubahan bentuk kata kerja berdasarkan waktu (tenses). Kita menggunakan keterangan waktu.

  • Saya makan (sekarang).
  • Saya makan (kemarin).
  • Saya makan (besok). Kata “makan” tetap sama.

Bahasa Jepang memiliki konjugasi waktu, mirip dengan Bahasa Inggris, namun lebih sederhana (hanya Past dan Non-Past).

  • () べる (Taberu) = Makan (sekarang/masa depan).
  • () べた (Tabeta) = Makan (lampau).

Jadi, Anda harus mengubah akhiran kata kerja untuk menunjukkan kapan peristiwa itu terjadi.

Kesimpulan

Membandingkan Indonesia vs Jepang dari sisi linguistik membuka mata kita bahwa belajar bahasa bukan sekadar menghafal kamus. Anda sedang mempelajari cara berpikir baru.

Ringkasan perbedaan utama:

  1. Aksara: Latin vs Kanji/Kana.
  2. Struktur: SPO vs SOP.
  3. Partikel: Tidak ada vs Sangat Penting.
  4. Kesopanan: Kontekstual vs Gramatikal (Keigo).
  5. Subjek: Eksplisit vs Sering Dihilangkan (Implisit).

Meskipun terdengar rumit, banyak konsep bahasa Jepang yang sebenarnya logis dan teratur. Kuncinya adalah jangan memaksakan logika bahasa Indonesia. Terimalah bahasa Jepang dengan segala keunikannya.

Siap memulai perjalanan bahasa Jepang Anda? Mulailah dengan langkah pertama yang paling penting: menguasai Hiragana dan Katakana. Ganbatte kudasai!